Cinta Terhalang Perbedaan Budaya

May 3, 2015 | By admin | Filed in: Arsip Konsultasi Psikologi.
Cinta Terhalang Perbedaan Budaya

Cinta Terhalang Perbedaan Budaya

Nama              : Ricky

Alamat Email  : rickxxxx@gmail.com

Pertanyaan:

Saya seorang mahasiswa berusia 22 tahun. Ayah saya seorang pribumi keturunan jawa yang dibesarkan di lingkungan pecinan, sedangkan ibu saya keturunan tionghoa asli. Sejak kecil saya dididik dan dibesarkan di lingkungan tionghoa. Lingkungan tempat tinggal saya, sekolah saya semuanya. Semua itu menanamkan mindset pada diri saya bahwa “saya adalah seorang WNI keturunan”. Pada saat itu saya belum menyadari jika saya”berbeda” dari apa yang saya pikirkan selama ini (=saya seorang tionghoa) teman-teman saya. Kenapa saya berbeda, adalah karena ayah saya seorang jawa, maka otomatis saya pun menjadi seorang jawa juga. Hingga suatu saat, disaat saya mencari jatidiri saya di masa remaja saya, saya menyadari itu, dan saya terkejut bahwa selama ini saya berbeda dari apa yg saya pikirkan. Saya sempat stres, saya tidak bisa menerima keadaan diri saya. Saya membenci diri saya, dan membenci ayah saya karena itu.

Hari berlalu dan saya memilih untuk menyembunyikan identitas asli saya ini dari orang-orang yg saya kenal, dan kembali menjalani hidup sebagai seorang “tionghoa”.

Namun di hati saya, saya takut dan khawatir hal ini akan mempersulit saya mendapatkan cinta saya. Perlu diketahui, di kalangan orang tionghoa (apalagi yang masih asli keturunan), mendapatkan seorang pasangan pribumi adalah haram hukumnya. Apalagi, sebagai anak dari ibu yang seorang tionghoa dan dibesarkan di lingkungan tionghoa, mindset saya mencari jodoh jugalah harus tionghoa. Ini sangat bertolak belakang dengan keadaan diri saya yang sejatinya bukan lagi seorang tionghoa dikarenakan status ayah saya. Namun saya mencoba mengacuhkan itu dan tetap mencari pasangan seorang tionghoa.

Beberapa waktu lalu saya dipertemukan dengan seorang gadis tionghoa yang masih asli keturunan. Saya sangat tertarik padanya sejak awal bertemu, kemudian saya mendekatinya, tentu saja dengan masih menutupi identitas saya tsb, dan kami berpacaran selama beberapa bulan. Selama itu pun saya sangat menyayanginya karena bisa dibilang dia adalah cinta serius pertama saya. Hingga akhirnya beberapa hari lalu dia mengetahui kebohongan saya. Dia sangat marah ketika mengetahui selama ini saya adalah seorang tionghoa campuran, apalagi dari ayah yang pribumi. Dia sangat menyesal ketika mengetahui bahwa selama ini dia berpacaran dengan seorang campuran. Ibunya juga melarang dia kembali bersama saya, dengan alasan bahwa hingga kapan pun keluarganya takkan bisa menerima saya.

saya depresi, kehilangan motivasi dan saya kian membenci kenyataan diri saya. Saya semakin membenci kenyataan ayah saya dan kian tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya seorang pribumi. Kejadian ini semakin memperkuat kebencian saya akan kenyataan diri saya.

Saya beranggapan semua ini tidak akan terjadi andai saja ayah saya bukan seorang pribumi…. Saya sangat kecewa, saya stres….

R (22 tahun), semarang

 Jawaban

Permasalahan percintaan yang Ricky alami, yang ada dinamika berkaitan dengan budaya, terutama terkait dengan Pribumi dan Non Pribumi, WNI keturunan maupun WNI asli. Jika mengingat pelajaran sejarah Indonesia, banyak teori yang disampaikan bahwa nenek moyang Indonesia berasal dari Mongol, India, Afrika dan juga dari Melayu. Konon sebagian suku di Kalimantan berasal dari Tionghoa. Kalo lihat sejarah lagi, Benua Australia penduduknya sebagian besar adalah pendatang dari Eropa, begitu juga Amerika. Penyebutan WNI keturunan dan WNI asli, atau Tionghoa, merujuk pada sejarah masa penjajahan di Indonesia, dimana ada pengkastaan secara tidak tertulis, yakni Pribumi, Keturunan (Tionghoa) dan Belanda (Eropa). Ini yang menjadikan bahwa seolah-olah, yang namanya orang Eropa memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan orang pribumi atau keturunan. Kemudian seolah-olah, status orang keturunan dari Tionghoa, walaupun sudah beranak pinak di Indonesia, kalau zaman dulunya ada keturunan Tionghoa, maka di sebut dengan WNI keturunan. Padahal besar dan lahir di Indonesia.

Parahnya lagi, stigma ini juga banyak di amini oleh keturunan Tionghoa ataupun keturunan dari semenanjung Arab di Indonesia, bahwa merasa secara budaya tidak tertulis ingin mempertahankan garis keturunan tersebut. Tionghoa akan menikah dengan Tionghoa, dan Keturunan Arab akan menikah dengan keturunan Arab juga. Memang banyak juga yang sudah beralkulturasi dengan selain golongan mereka. Budaya pemurnian ini yang mana “harus” menikah dengan golongannya sendiri secara budaya, menghambat proses alkulturasi budaya antara suku maupun golongan. Efeknya adalah stigma-stigma yang banyak terjadi di masyarakat, bahwa misalnya Tionghoa begini, begitu, yang dari semenanjung Arab begini, begitu. Stigma ini pun ada di lingkungan yang sekarang Ricky alami sekarang ini.

Stigma ini juga pada akhirnya bisa mempengaruhi konsep diri Ricky, sebagaimana yang Ricky sampaikan bahwa merasa sebagai WNI keturunan, padahal lahir dan besar di Indonesia. Konsep diri yang Ricky miliki sekarang, belum tentu juga dirasakan oleh keturunan Tionghoa di Indonesia, mungkin dikarenakan lingkungan yang lebih terbuka terhadap lingkungan, misalnya berkaitan dengan pekerjaan, pergaulan dan pernikahan. Yang menjadi PR Ricky sebenarnya bukan bagaimana mendapatkan jodoh yang dari keturunan Tionghoa, maupun yang dari Pribumi, atau yang lainnya namun bagaimana Ricky mampu bersikap bahwa Ricky adalah warga Negara Indonesia yang memiliki nilai-nilai bahwa setiap suku adalah setara. Dan bagaimana Ricky mampu menyakinkan orang tua dan lingkungan berkaitan dengan hal tersebut. Pun misalnya nanti bertemu dengan calon Istri yang Tionghoa dan menolak kondisi Ricky sekarang, sampaikan sejak awal menjalin hubungan jika hal tersebut bisa menjadi masalah. Dan saya yakin sekali, banyak sekali kok yang tidak mempermasalahkan apakah Ricky Tionghoa turunan atau lainnya ketika memutuskan akan menikah dengan Ricky. Tetap semangat.


Leave a Reply