Menikmati Hujan Mengingatkan pada Masa Kecil

June 21, 2014 | By admin | Filed in: Kenangan.
hujan deras sekali @pixabay.com

hujan deras sekali @pixabay.com

Menikmati Hujan, Mengingatkan pada Masa Kecil @pixabay.com

Menikmati Hujan, Mengingatkan pada Masa Kecil @pixabay.com

Menikmati hujan, sambil menulis tentang hujan. Harus ketemu momentnya seperti ini. Otak ini terus terasosiasi dengan hal yang positif ketika mendengar air hujan terus dilantai, mendengar gemuruh petir dilangit, langit yang gelap ditambah aroma hujan yang khas. Semuanya membawa hal positif, titik dimana saya merasa tenang, damai dan bahagia.

Menikmati Hujan Mengingatkan pada Masa Kecil. Ketika kecilpun aku selalu menikmati hujan, baik yang lebat maupun yang sekedar gemiris atau hanya petir yang datang. Otak ini terasa pada gelombang yang penuh energy dan fresh. Sehingga ide-ide yang muncul ketika ada hujan atau petir yang menggelegar di lapangan. Bahkan kecemasan akan hilang seiring hujan yang turun.

Apakah hujan ini adalah kekuatan? Bahkan dari kecil perasaan itu tidak pernah hilang. Terkadang saya meluangkan waktu untuk tidak tidur, untuk mendengarkan air jatuh dari genting, suara angin, hujan dan petir menyambar-nyambar. Saya menyebutkan musik alam, dan ternyata tidak yang dapat menandingi musik alam hujan ini dibandingkan dengan musik dihasilkan oleh alat musik manusia sebagai salah satu bentuk dari hasil peradaban manusia.

Setelah menelusur otak ini, mengingatkan pada masa kecil, ketika hujan turun, berdiri di depan tungku, menyalakan api, membakar ketela, ubi, jagung atau pisang. Kemudian membuat teh manis, bagi saya moment hujan adalah moment ketika seluruh keluarga berkumpul di rumah. Kalaupun ada genting yang sedikit bocor, biasanya saya mengambil ember untuk menadahkannya. Menghangatkan tubuh di depan tungku barangkali sudah menjadi barang mewah sekarang karena tungku sudah diubah dengan kompor gas. Keasyikan membakar ketela, ubi, jagung atau pisang ini menjadi sebuah moment yang mahal juga. Termasuk berkumpulnya keluarga di depan tungku yang sekarang sudah dirampas sama keberadaan televisi.

Kalau kenangan masa kecil pasti pernah yang namanya berhujan-hujanan bersama teman untuk sekedar bermain bola di lapangan atau hanya untuk berlari kesana kemari dan mencari aliran air diselokan yang besar.

Kalau hujannya pagi, maka akan dibuatkan oleh emak, sarapan yang biasanya sarapan dengan lauk teri yang disambal dengan kelapa. Sudah sekitar 5 tahun bahkan lebih, saya tidak merasakan sarapan dengan lauk teri dan sambal kelapa yang seenak ketika saya kecil.

Di daerah saya jika musim hujan, dan ketika bulan tertentu maka hujan akan ada sepanjang minggu, kadang sampai 2 minggu berturut-turut. Maklum desa saya pegunungan, tepatnya pegunungan kendeng utara, kalaupun di dataran rendah tidak hujan, desa saya bisa hujan, karena perbedaan suhu, ketinggian dan angin. Ketika musim hujan tiba, kabut akan ada sepanjang hari, penduduk desa biasanya tidak ada yang keluar, semuanya ada di rumah masing-masing. Moment ini sudah menjadi langka juga, dikarenakan kesibukan kerja dan sebagainya.

Kabut yang ada di desa saya, kadang jarak pandangnya hanya sampai sepuluh meter. Sehingga hawa desa ini sedang slow, jarang ada aktivitas ekonomi, lebih damai, tenang dan tidak ada noise. Bahkan ketika kuliah, saya tidak masuk satu minggu dikarenakan kondisi desa saya hujan dan tidak ingin kembali ke kampus. Tiap hari menikmati hujan, tidak keluar rumah dan melakukan aktivitas yang tadi saya sebutkan. Saya asumsikan bahwa desa lain juga sedang hujan seperti itu, sehingga membuat malas kembali ke kampus. Dan ternyata analisa saya salah, baru turun dari desa saya saja, tidak ada kabut, tidak hujan dan malah panas. Benar kalau dibilang bahwa desa saya

Ketika menulis tulisan ini, diluar kamar sedang hujan, sekekali gemuruh petir menyambar, menambah damainya diri. Bagaimana dengan anda? Apakah menikmati hujan juga?


Leave a Reply