Wawancara dengan Penjual Sate Ayam dan Kambing Tentang Pendapatan Hariannya

June 6, 2014 | By admin | Filed in: Renungan.

Sate Kambing

Mendengar penjual sate ayam dan kambing, terasosiasi dengan makanan khas Indonesia yang enak, dan hampir digemari oleh segala usia. Resep sate ayam dan kambing, tidaklah susah. Bumbu utamanya adalah bawang merah, cabe, kecap, tomat segar yang lebih sering disebut dengan bumbu kecap. Ada juga perpaduan bawah merah, sambel kacang dan tomat segar, yang lebih sering disebut dengan bumbu kacang. Ada beberapa tipe penjual sate ayam dan kambing ini, ada yang memiliki stand, warung atau lapak. Ada juga yang keliling untuk menjajakan dagangannya dengan gerobak. Ada juga yang menggunakan gerobak namun tidak keliling.

Beberapa hari yang lalu, saya jalan ke gang kampung, di Jakarta barat, untuk mencari penjual sate. Kondisi wilayahnya, perkampungan dan juga kawasan kost, karena di seberang jalannya adalah kawasan perkantoran, walaupun bukan yang utama di Jakarta barat. Mulailah ide usil saya untuk menanyakan beberapa pertanyaan. Saya memang memiliki hobi yang unik, yakni bertanya, berdiskusi ataupun ngobrol ngalor ngidul dengan macam-macam pedagang, baik bakso, mie ayam, gorengan, es ataupun tukang parkir ataupun lainnya. Motif saya biasanya adalah ingin mengetahui dunia psikologis masing-masing profesi, yang kadang jarang disapa oleh pelanggannya, ataupun diajak cerita. Responnya biasanya senang dan merasa dihargai. Biasanya saya mendapatkan banyak inspirasi, masukan ataupun ide yang bisa saya gunakan sebagai media belajar. Bahkan saya pernah wawancara dengan penjaga kuburan, saking penasarannya, ternyata kuburan itu ada yang menjaganya. Kan katanya udah puluhan tahun beliau menjaga kuburan itu.

Kembali ke tukang sate tersebut, wawancara dengan penjual sate ayam dan kambing tentang pendapatan hariannya. saya menanyakan berkaitan dengan pedagang sate di sekitar sini, dan ternyata di 300 meter lain tempat adalah sama-sama milik bapaknya katanya. Pedagang sate ini ada dua orang, yang satu yang bagian membuat sate, dan satunya membuat bumbu. Saya kebetulan mengobrol dengan yang membuat sambalnya. Obrolan berikutnya berkaitan dengan perbandingan antara pedagang dengan pekerja kantoran. Dan saya menyampaikan bahwa belum tentu pendapatan orang kantoran lebih besar dari pada penjual sate seperti beliau. Saya coba pancing untuk daya jual satu malemnya berapa. Ternyata jawabannya diluar estimasi saya, yakni 1000 tusuk atau dengan kata lain kalau dalam porsi 100 porsi. Dengan kata lain, setiap malam, mereka melayani 100 pelanggan. Harga untuk sate ayam adalah 15.000 dengan lontong dan 22.000 dengan lontong untuk sate kambing. Itupun jam kerjanya dari jam 5 sore sampai jam 11 malam, biasanya sudah habis.

Jika diasumsikan bahwa yang laku adalah 50% sate ayam dan 50% sate kambing. Saya jumlahkan pendapatannya adalah Rp. 1.850.000 dalam sehari. Jika asumsi untuk modalnya untuk membeli daging ayam dan kambing adalah 850.000. Maka pendapatan bersihnya adalah 1.000.000, sedangkan jika dibagi menjadi dua, jadi per orang mendapatkan bagian 500.000 alias sebulan 15.000.000. Dengan pendapatan tersebut di Jakarta gaji seorang penjual sate, dengan modal hanya gerobak yang diparkir dipinggir jalan, tidak keliling ataupun memiliki lapak adalah 15.000.000. Jika dibandingkan dengan karyawan kantoran dengan gaji 15.000.000 adalah setara Supervisor dan Manager.

Artikel ini tidak akan memperdebatkan apakah kita harus menjadi seorang penjual sate saja jika ingin mendapatkan pendapatan segitu dengan cepat, atau menyimpulkan bahwa menjadi pedagang lebih baik dari pekerja kantoran. Namun alangkah ironisnya jika kita merendahkan profesi orang lain. Barangkali profesi orang lain yang menurut kita adalah profesi rendahan, tidak prestisius, tidak membanggakan namun ternyata dapat mendatangkan pendapatan yang dapat lebih besar dari pada pekerja kantoran.


Tags: , , ,

Leave a Reply